[Opini] Pulang dari Masa Lalu, Tinggal di Hari Ini
Ada karya-karya yang selesai kita baca, lalu perlahan menghilang dari ingatan. Namun ada juga karya yang diam-diam tetap tinggal karena mengubah cara kita memandang kehidupan. Akhir-akhir ini saya selalu mengingat-ngingat dua karya yang beberapa minggu lalu saya selesaikan, karya tersebut berupa film dan buku. Saya sudah menuliskannya juga tentang dua karya tersebut di Perfect Days: Tentang Rutinitas sederhana yang terkadang lebih bermakna dan juga Funiculi Funicula, Memahami masa lalu sebelum menjadi dingin.
Sekilas Perfect Days dan Before the Coffee Gets Cold. tidak memiliki hubungan apapun. Yang satu berkisah tentang seorang pembersih toilet di Tokyo, sementara yang lain menceritakan sebuah kafe yang mampu membawa pengunjungnya ke masa lalu.
Tidak ada satu karya yang mampu menjelaskan kehidupan secara utuh. Namun terkadang, ketika dua karya yang berbeda diletakkan berdampingan, kita mulai melihat hubungan yang sebelumnya tidak pernah kita sadari.
Namun semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa kedua karya tersebut sedang membicarakan pertanyaan yang sama, meskipun melalui jalan yang sangat berbeda.
Bagaimana manusia dapat tetap hidup ketika masa lalu tidak dapat diubah, sementara hari ini terus berjalan?
Keinginan untuk Kembali
Salah satu hal yang paling sering kita lakukan sebagai manusia adalah berandai-andai. Kita terkadang membayangkan jalur alternatif dari kehidupan yang sedang berjalan dan berpikir bagaimana jika keputusan yang kita ambil berbeda, bagaimana jika kata-kata tertentu yang mungkin menyakiti seseorang sempat diucapkan, bagaimana jika hal buruk yang pernah terjadi bisa kita lalui, bagaimana jika aku tidak mengucapkan hal tersebut, atau bagaimana jika kita memiliki satu kesempatan lagi untuk kembali. Keinginan untuk kembali bukan hanya sekedar keinginan untuk mengubah masa lalu, melainkan usaha untuk berdamai dengan sesuatu yang masih tertinggal di sana, untuk menemukan ketenangan didalam hati, untuk mendamaikan masa lalu.
Pulang dari Masa Lalu
Pertanyaan inilah yang menjadi inti dari Before the Coffee Gets Cold menurut saya. Melalui sebuah kafe kecil penulis Toshikazu Kawaguchi mengajak pembacanya kembali ke masa lalu. Namun sejak awal dia juga menetapkan sebuah aturan yang membuat perjalanan tersebut terasa percuma, apapun yang dilakukan, masa kini tidak akan berubah.
Justru karena aturan itulah saya menyadari bahwa perjalanan waktu dalam novel ini tidak pernah dimaksudkan untuk mengubah takdir. Yang berubah bukan kenyataannya melainkan hati orang yang kembali. Agar mereka yang kembali dapat berdamai dengan masa lalu yang menjadi beban bagi mereka, dan menghapuskan rasa sesal yang tertinggal.
Namun setelah seseorang mampu pulang dari masa lalu dan berdamai dengannya, muncul pertanyaan berikutnya yang terpikir oleh saya.
Bagaimana dia menjalani hari ini?
Tinggal di Hari ini
Jika Novel dari penulis Toshikazu Kawaguchi mengajak kembali, maka film dari Wim Wenders justru mengajak kita berhenti sejenak dan memperhatikan hari ini.
Perfect Days film ini tidak membawa tokohnya kembali ke masa lalu. Tokohnya, Hirayama justru hampir tidak pernah membicarakan masa lalunya. Penonton hanya diberi sedikit petunjuk bahwa ada sesuatu yang pernah terjadi dalam hidupnya, namun film ini memilih untuk tidak menjadikannya pusat cerita.
Sebaliknya, yang diperlihatkan berulang kali adalah rutinitas. Hirayama bangun pagi, meminum kopi kaleng, bersiap untuk bekerja, mendengarkan kaset-kaset lama dalam perjalanan, membersihkan toilet, menikmati makan siang sambil memandangi cahaya matahari yang menembus dedaunan, membaca buku sebelum tidur, lalu mengulang kembali semuanya keesokan hari. Tidak ada kejadian yang benar-benar besar. Namun justru dari pengulangan itulah film ini memperlihatkan bahwa kehidupan tidak selalu dibentuk oleh momen-momen luar biasa, melainkan oleh cara kita menjalani hari-hari yang biasa, dan memaknai setiap hal kecil yang terjadi. Setiap hal kecil yang terjadi pada masa kini terkadang tanpa kita sadari memberikan dorongan untuk kita, agar kita bisa melalui hari ini, hari esok, serta harii yang akan datang.
Awalnya saya mengira Hirayama hanyalah seseorang yang menjalani rutinitas tanpa banyak ambisi. Namun semakin lama saya menontonnya, semakin saya merasa bahwa dia bukan sedang melupakan masa lalu, melainkan telah berhenti membiarkan masa lalu menentukan seluruh hidupnya. Dia memilih hadir sepenuhnya pada hari ini, memperhatikan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian kita.
Jika tokoh-tokoh dalam Before the Coffee Gets Cold pulang dari masa lalu dengan hati yang damai serta penerimaan, maka Hirayama seolah menunjukan bagaimana hati yang telah berdamai itu menjalani kehidupan sehari-hari. Dia tidak hidup dalam penyesalan, tetapi juga tidak mengejar sesuatu yang luar biasa. Dia hanya hidup, hari demi hari dengan penuh perhatian.
Di Antara Masa lalu dan Masa kini
Di sinilah saya merasa kedua karya tersebut saling melengkapi. Before the Coffee Gets Cold dan Perfect Days memang menceritakan kisah yang sangat berbeda, tetapi bagi saya keduanya seolah sedang menuju tempat yang sama.
Before the Coffee Gets Cold mengajarkan bahwa terkadang kita perlu kembali, tetapi bukan untuk mengubah masa lalu, melainkan untuk menerima dan memahaminya. Sebaliknya, Perfect Days mengingatkan bahwa setelah kita mampu berdamai dengan masa lalu, kehidupan tetap berlangsung di hari ini, di masa kini, yang nantinya akan menentukan masa depan. Hari-hari yang tampak sederhana, rutinitas yang terus menerus berulang, serta hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian, justru terkadang menjadi ruang tempat dimana justru kita merasa benar-benar hidup.
Setelah memikirkan kedua karya tersebut, saya mulai merasa bahwa kehidupan mungkin memang selalu bergerak di antara dua arah. Kita sesekali perlu kembali untuk memahami, menerima, dan menyelesaikan hal-hal yang masih tertinggal di masa lalu. Namun tentu kita juga tidak bisa terus tinggal di sana, apapun yang terjadi di masa lalu, semua sudah terjadi, apa yang perlu kita lakukan hanyalah menerimanya. Karena kita perlu kembali untuk berada di hari ini, hari-hari yang masih diberikan kepada kita, hari-hari yang patut disyukuri dan dimaknai. Sebab tidak ada kehidupan yang berlangsung di masa lalu. Kehidupan selalu terjadi di hari ini.
Barangkali kedamaian bukanlah ketika masa lalu berhasil diubah, melainkan ketika kita mampu pulang darinya tanpa terus-menerus terbebani olehnya. Dan setelah pulang kita belajar menjalani hari ini dengan lebih utuh, sebagaimana Hirayama menikmati sekaleng kopi sebelum pergi kerja, buku yang dia baca sebelum tidur, cahaya matahari yang menembus dedaunan dan rutinitas sederhana yang perlahan membentuk hidupnya.
Pada akhirnya, saya merasa Before the Coffee Gets Cold mengajarkan saya bagaimana cara memandang masa lalu, sementara Perfect Days mengajarkan saya cara memandang hari ini. Di antara keduanya, saya menemukan satu pengingat sederhana bahwa kehidupan tidak pernah benar-benar meminta kita untuk memilih salah satunya. Kehidupan hanya meminta kita untuk terus melangkah, sambil sesekali memahami ke mana kita pernah pergi, dan sepenuhnya hadir di tempat kita sedang berada.