Notes on the Book: Funiculi Funicula, Memahami Masa Lalu Sebelum Kopi Menjadi Dingin

Belakangan ini, saya menghabiskan waktu di sela-sela keseharian dengan membuka lembaran awal dari sebuah buku yang langsung menarik perhatian saya: "Funiculi Funicula" Judul asli dari buku ini sebenarnya ialah "Before the Coffee Gets Cold". Funiculi Funicula sendiri sebenarnya nama dari sebuah kafe tempat terjadinya hampir semua kisah yang ada dalam buku ini, kafe kecil di kota Tokyo yang menawarkan sesuatu yang mustahil namun sangat diinginkan banyak orang, yaitu kesempatan untuk kembali ke masa lalu.
Namun, tidak ada keajaiban yang cuma-cuma. Di kafe ini, perjalanan melintasi waktu diikat oleh begitu banyaknya peraturan yang sangat ketat, rumit, dan bagi sebagian orang mungkin akan terdengar menyebalkan.
Terlebih di antara semua aturan tersebut, ada satu aturan mutlak yang perlu diketahui bahwa: Pergi ke masa lalu sama sekali tidak akan mengubah apapun walaupun kamu berusaha sekeras apapun, sekuat apapun atau memohon di masa lalu, kenyataan yang terjadi di masa sekarang tidak akan berubah, akan tetap sama. Ruang pada hari ini tidak akan bergeser sedikit pun.
Saat membaca bagian tersebut, saya bertanya layaknya karakter yang ada pada novel tersebut, Jika masa kini tidak dapat diubah, lalu untuk apa kita repot-repot kembali ke masa lalu?
Terkadang saya berpikir, manusia adalah makhluk yang aneh. Kita sering kali fokus pada rasa sakit yang kita terima, pada penyesalan yang terlambat, atau pada kata-kata yang andai saja dulu kita sampaikan (atau tidak kita sampaikan). Kita berandai-andai tentang jalur alternatif kehidupan.
Terdapat 4 cerita dalam buku ini:
-
Kekasih, cerita pembuka dari buku ini yang awalnya membuat saya berpikir bahwa buku ini lebih ke cerita fiksi romance. Tetapi secara perlahan plotnya membawa saya ke bagian paling menarik yaitu legenda tentang kafe yang dapat membawa kita kembali ke masa lalu. Dalam cerita pertama ini berkisah mengenai karakter bernama Fumiko seorang wanita karier yang tiba-tiba ditinggalkan oleh kekasihnya. Cerita pertama memang belum terlalu membekas bagi saya dibanding cerita-cerita setelahnya. Namun justru melalui kisah Fumiko, saya mulai memahami aturan paling penting dalam kafe ini, perjalanan waktu bukanlah tentang memperbaiki keputusan yang salah. Saya menyadari bahwa sering kali yang kita cari dari masa lalu bukan kesempatan kedua, melainkan jawaban atas pertanyaan yang selama ini terus kita bawa.
-
Suami Istri, bercerita tentang karakter Fusagi yang perlahan kehilangan ingatannya karena penyakit Alzheimer, sampai dia melupakan istrinya sendiri, bernama Kotake. Kotake kembali ke masa lalu untuk menerima sepucuk surat yang ditulis suaminya sebelum ingatannya memudar. Cerita kedua cukup berkesan bagi saya, terlebih perihal apa yang ada dalam surat tersebut. Kisah ini membuat saya berpikir bahwa cinta mungkin bukan tentang mengingat setiap momen bersama. Ada bentuk kasih sayang yang tetap tinggal bahkan ketika ingatan perlahan menghilang. Surat yang ditinggalkan Fusagi terasa seperti pengingat bahwa terkadang kata-kata yang sederhana mampu bertahan lebih lama daripada ingatan manusia itu sendiri.
Layaknya buku-buku klasik yang masih bertahan hingga sekarang, bukan? Itulah kekuatan kata-kata atau tulisan yang mampu melampaui batas ruang dan waktu.
-
Kakak Adik, Karakter Hirai adalah seorang wanita yang kabur dari rumah karena enggan meneruskan bisnis penginapan keluarganya. Dia selalu menghindari adiknya Kumi. Hingga suatu ketika Kumi meninggal karena kecelakaan setelah mencoba mengunjungi Hirai, namun Hirai tidak mau menemuinya. Cerita Hirai mengingatkan saya bahwa penyesalan terbesar sering kali bukan berasal dari kebencian, melainkan dari kasih sayang yang terlambat diungkapkan. Kita sering merasa masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki hubungan, hingga suatu hari, waktu itu benar-benar habis. Kisah ini membuat saya bertanya, berapa banyak orang yang sebenarnya ingin kita temui hari ini, tetapi selalu kita tunda sampai besok, sebelum kita menyadari dan menyesalinya? Barangkali bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kita terlalu yakin bahwa hari esok masih ada.
-
Ibu dan Anak, bercerita tentang karakter yang merupakan istri dari pemilik kafe ajaib tersebut bernama Kei yang sedang hamil namun memiliki kondisi jantung yang lemah. Dia tahu bahwa mempertahankan bayinya sangat mungkin akan merenggut nyawanya sendiri. Ini adalah cerita yang tidak membawa kita ke masa lalu melainkan ke masa depan. Kei tahu bahwa dia tidak akan bisa mengubah takdir yang menantinya. Dia bahkan tidak pergi ke masa depan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Yang ingin dia cari hanyalah kepastian bahwa orang yang akan ditinggalkannya kelak dapat hidup dengan baik. Rasanya sangat manusiawi. Kadang kita tidak membutuhkan jawaban tentang diri kita, melainkan ketenangan bahwa orang-orang yang kita cintai akan tetap baik-baik saja.
Melalui kisah-kisah dalam kafe ini, penulis Toshikazu Kawaguchi perlahan menuntun kita pada sebuah jawaban yang jernih. Perjalanan kem bali ke masa lalu ternyata bukan hanya untuk mengubah takdir, mendapatkan jalur alternatif, atau mengubah suatu keputusan. Perjalanan itu ada untuk mengubah hati orang yang melakukannya, memberi mereka kesempatan untuk menuntaskan pikiran dan perasaan yang selama ini menggantung, hingga akhirnya mampu menerima dan meyakini bahwa jalan yang mereka tempuh bukan sekadar takdir yang tidak dapat diubah, melainkan bagian dari hidup yang memang perlu mereka jalani.
Apa pun alasan yang membawa seseorang duduk di kursi kafe tersebut, entah untuk menyelesaikan yang menggantung di masa lalu, atau mencari kepastian di masa depan, kenyataan pada akhirnya tidak ada yang berubah. Ruang dan waktu di luar kafe tetap berjalan sebagaimana mestinya. Namun, mereka yang telah melintasi waktu kembali dengan jiwa yang sepenuhnya baru, jiwa yang akhirnya mampu memaafkan diri sendiri, menemukan kedamaian hati, dan siap menghadapi sisa takdir yang ada.
Pada akhirnya, saya menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul sejak awal membaca buku ini. Jika masa kini memang tidak dapat diubah, mengapa harus kembali ke masa lalu? Karena terkadang yang perlu berubah bukanlah masa lalunya, melainkan diri kita yang masih hidup di masa kini. Masa lalu tetap sama, tetapi ketika kita berhasil memahami dan menerimanya, kita pulang sebagai seseorang yang berbeda.
"Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Namun terkadang, memahami masa lalu sudah cukup untuk memperbaiki cara kita menjalani hari ini."
Kehidupan memang sering membawa kita ke jalur-jalur yang tidak terduga, kita tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi ke depannya. Masa depan terkadang terlihat sangat abu-abu dan menakutkan. Namun, buku ini dengan hangat membisikan bahwa meskipun kita tidak bisa mengubah masa lalu, atau kadang harus menghadapi bagian dari masa depan yang sudah kita ketahui, kita selalu punya kendali penuh atas bagaimana kita menerima, mensyukuri dan berbahagia di sisa hari yang masih kita miliki.
Baca juga: