#Film#Movie#Jepang#Drama🌳 Evergreen5 Juli 2026• Oleh Ii Hidayat 8 dibaca0 Dirawat 12 hari lalu

[Review] Perfect Days: Tentang rutinitas sederhana yang terkadang lebih bermakna

Poster Perfect Days

Sumber Gambar: themoviedb.org

Di minggu pagi ini, saya memutuskan untuk menonton sebuah film berjudul Perfect Days. Aktor utama dalam film ini adalah aktor senior Koji Yakusho, saya hanya tau dia pengisi suara dalam anime The Boy and the Beast (Bakemono no Ko) sebagai beruang pemalas ahli pedang bernama Kumatetsu.

Bagi sebagian orang film ini mungkin akan terasa membosankan karena alurnya yang sangat lambat. Tidak ada letusan emosi yang naik, maupun turun, atau sebuah konflik yang meledak-ledak. Film ini hanya sekedar menceritakan keseharian kakek bernama Hirayama yang berkerja sebagai pembersih toilet umum di kota Tokyo. Namun, bagi saya yang menyukai tontonan santai dan meditatif untuk melepas lelah, film ini sangat menarik dan bagus.

Toilet, Yoyogi Fukamachi Mini Park, by Shigeru Ban

Sumber Gambar: Toilet, Yoyogi Fukamachi Mini Park, by Shigeru Ban

Daya tarik utama dalam film ini menurut saya terletak pada bagaimana film ini menyoroti rutinitas yang diulang, ini bagian yang menurut saya akan terasa membosankan bagi sebagian orang karena penonton akan disuguhkan Hirayama mengulang-ulang aktifitas hariannya seperti membersihkan toilet bagian ini menarik karena penonton diperlihatkan bagaimana desain-desain dari toilet jepang yang menarik dan luar biasa. Di luar jam kerjanya, Hirayama hidup dalam ritme yang pelan dan sederhana. Mendengarkan musik dari koleksi kaset pita lawas, membaca buku yang dibeli di akhir pekan, makan siang sambil memotret cahaya matahari yang menembus celah dedaunan, ngemil di stasiun bawah tanah (mungkin itu stasiun?), bersepeda, mencuci pakaian di laundry, dan seterusnya.

Amayadori, Jingu-Dori Park, by Tadao Ando

Sumber Gambar: Toilet, Amayadori, Jingu-Dori Park, by Tadao Ando

Hirayama adalah seorang pendiam yang bahkan jarang sekali mengucapkan kalimat panjang. Namun, seiring berjalannya durasi, penonton disuguhkan plot pertemuan sang protagonis dengan keponakan remaja bernama Niko dan juga adiknya bernama Keiko. Dari interaksi singkat yang minim dialog itulah, seolah memberi tahu sebuah rahasia masa lalu dari Hirayama. Ketika adiknya menjemput Niko menggunakan mobil mewah dan menanyakan apakah Hirayama benar-benar bekerja membersihkan toilet? Dan Hirayama diminta untuk menjenguk ayahnya lalu menolak. Dari situ dapat disimpulkan bahwa masa lalu Hirayama dengan keluarganya kurang baik. Dan kehidupan sederhan nya sekarang adalah bentuk pelariannya dari masa lalu tersebut.

Menonton keseharian kakek ini memicu sebuah pikiran dalam kepala saya, "Bagaimana jika hidup saya sampai tua nanti hanya seorang diri?"

Saya ragu apakah saya bisa memiliki tingkat kedisiplinan yang sama seperti kakek Hirayama ini jika saya berada di posisinya. Namun, Perfect Days memberikan sebuah pandangan yang menenangkan tentang kesendirian. Mengutip salah satu dialog yang dikatakan Hirayama kepada keponakannya Niko “Kondo wa kondo, ima wa ima.” (Sekarang ialah sekarang. Lain kali ialah lain kali). Film ini bukan hanya sekedar tentang membersihkan toilet kota, melainkan bagaimana menata ruang yang ada didalam batin kita sendiri. Film ini mengingatkan bahwa kedamaian tidak selalu bersumber dari hal-hal yang besar, bahkan hal-hal kecil dan sederhana terkadang lebih memiliki makna. Hal-hal tersebut dapat ditemukan dalam rutinitas harian, dalam bayangan pohon yang menari-nari bersama hembusan angin, dan dalam keputusan untuk berdamai dengan kenyataan pada saat ini.