[Opini] Tentang Tiga Laci Sebagai Tiga Kategori Masalah
Belakangan ini saya terpikirkan sesuatu tentang bagaimana seharusnya saya menghadapi masalah dalam kehidupan. Terlebih akhir-akhir ini saya sendiri tidak mengerti kenapa seluruh perasaan dan pikiran saya tiba-tiba mendapatkan ketenangan. Saya tidak lagi merasa terlalu larut dalam overthinking, saya tidak lagi terus-menerus menyesali ketika merasa langkah yang saya ambil salah, saya tidak lagi merasa harus selalu melihat ke belakang, dan tidak lagi terlalu takut melihat apa yang akan terjadi di masa depan yang belum memiliki kepastian.
Entah kenapa, semuanya terasa sedikit lebih tenang.
Tetapi mungkin justru karena pikiran saya sedang lebih tenang, saya mulai memperhatikan dengan sedikit lebih seksama terhadap bagaimana selama ini saya menghadapi masalah.
Terkadang, saya selalu terburu-buru ingin menyelesaikan setiap masalah yang ada, secepat mungkin ingin membereskannya, secepat mungkin ingin memperbaikinya, dan jika ada sesuatu yang mengganggu pikiran, saya ingin segera menemukan jawabannya. Seolah-olah setiap masalah yang datang harus memiliki penyelesaian secepat mungkin. Ya, walaupun terkadang kebiasaan lama dan ketakutan masih sedikit membuat saya merasa terburu-buru.
Namun ternyata saya salah, semakin dipikirkan, saya mulai merasa bahwa mungkin tidak semua masalah memang harus diselesaikan. Ada sesuatu yang memang bisa kita lakukan sekarang dengan tindakan untuk menyelesaikannya, ada sesuatu yang memang perlu waktu, dan ada juga sesuatu yang mungkin tidak bisa kita ubah sama sekali.
Tentang hal-hal yang dapat kita kendalikan
Saya pernah membaca tentang sebuah konsep yang dikenal sebagai Dikotomi Kendali (Dichotomy of Control).
Some things are within our power (_eph’ ēmin in the original Greek) while others are not. Within our power are opinion, motivation, desire, aversion, and, in a word, whatever is of our own doing; not within our power are our body, our property, reputation, office, and, in a word, whatever is not of our own doing. Epictetus
Sederhananya, ada beberapa hal yang masih berada dalam kendali kita, dan ada hal-hal yang berada di luar kendali kita. Kita bisa mengendalikan tindakan yang kita lakukan, kita bisa memilih bagaimana merespons sesuatu, kita bisa menentukan apa yang ingin kita katakan, usaha yang ingin kita berikan, dan keputusan yang kita ambil. Namun, kita tidak bisa mengendalikan masa lalu, kita tidak bisa menentukan apa yang orang lain pikirkan tentang kita, kita tida bisa menentukan keputusan orang lain. Bahkan hasil akhir dari usaha yang sudah kita lakukan pun terkadang tidak sepenuhnya berada ditangan kita, karena kenyataannya kita tidak tahu apakah kerja keras kita akan menghasilkan sesuatu atau tidak akan menghasilkan apapun. Saya merasa bagian yang paling sulit dalam hal ini bukan untuk memahami perbedaannya. Kita sebenarnya tahu. Yang sulit dalam hal ini adalah menerimanya ketika sesuatu yang berada di luar kendali kita menyangkut sesuatu yang sangat kita pedulikan. Karena kesulitan pada bagian ini terkadang langsung merasuk pada hati dan pikiran kita. Bahkan mungkin kita akan kesulitan untuk tidak mengingatnya sama sekali.
Bukan karena semua masalah terlalu besar, tetapi karenna terkadang kita menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita genggam.
Tiga Laci
Tulisan ini berawal dari catatan kecil dari tangan saya
Dari semua pemikiran spontan tersebut, saya kemudian membayangkan jika masalah-masalah dalam hidup dapat dibagi ke dalam tiga kategori seperti sesuatu yang dapat kita letakan ke dalam tiga laci. Bukan karena kehidupan sesederhana itu, justru sebaliknya, kehidupan terlalu rumit, dan mungkin terkadang kita membutuhkan cara yang lebih sederhana untuk memilah apa yang sedang kita hadapi.
Apa yang saya bayangkan ini adalah 3 kategori masalah yang dapat kita simpan ke dalam sebuah laci berbeda, sebut saja ini Tiga Laci Penyimpan Masalah.
Laci Pertama: Tindakan
Ada masalah yang sebenarnya tidak membutuhkan banyak pemikiran, ada sesuatu yang bisa dilakukan, dan setelah dilakukan masalah tersebut selesai seperti misalnya menyelesaikan pekerjaan, memperbaiki kesalahan kecil, mencari sesuatu yang hilang, meminta maaf ketika memang kita sadar sudah melakukan kesalahaan, masalah yang butuh tindakan kecil, cepat dilakukan, dan bisa langsung selesai. Masalah seperti ini mungkin hanya membutuhkan satu tindakan. Namun terkadang kita terlalu sering menunda dan membiarkannya terlalu lama berada di kepala. Kita terkadang hanya memikirkannya secara berulang-ulang tanpa melakukan tindakan apapun. Padahal mungkin jawabannya kita sudah tahu dan itu cukup sederhana.
Lakukan Identifikasi masalahnya, tentukan apa yang bisa dilakukan. Lakukan, selesai. Laci pertama bukan tentang bertindak cepat tapi bertindak ketika kita memang sudah tahu apa yang dapat dilakukan.
Mungkin tidak semua hal harus kita pikirkan terlalu lama, beberapa hal memang hanya membutuhkan tindakan.
Laci Kedua: Waktu
Terkadang ada masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan tindakan. Belajar sesuatu membutuhkan waktu, membangun kepercayaan membutuhkan waktu, memperbaiki diri membutuhkan waktu, membangun kehidupan yang lebih baik juga membutuhkan waktu, terkadang kita juga perlu berpikir lebih lama untuk mencari solusi dari sebuah masalah yang belum memiliki langkah penyelesaian, dan bahkan luka yang kita miliki perlu waktu untuk dapat sembuh. Masalah yang memang membutuhkan waktu, proses, pertimbangan lebih, dan belum ada solusi jelas. Kita mungkin perlu bertanya, mencari informasi, mencoba sesuatu, gagal, mengubah pendekatan, lalu mencobanya kembali.
Kita tetap bergerak, tetapi tidak memaksa hasilnya datang lebih cepat daripada prosesnya.
Kita ingin sesuatu segera berubah atau kita menginginkan suatu hal secara instan hanya karena kita sudah berusaha. Padahal usaha dan hasil tidak selalu memiliki kecepatan yang sama, kita menanam pohon hari ini, tetapi tetantu saja kita tidak bisa memaksa pohon tumbuh tinggi di keesokan pagi. Semua itu perlu waktu dan proses.
Mungkin terkadang kita perlu bertanya pada diri sendiri,
Apa satu hal kecil yang bisa saya lakukan hari ini?
Ada kalanya saya merasa tidak mengalami perkembangan sama sekali. Seberapa banyak pun saya berusaha mempelajari sesuatu, saya sering merasa bahwa apa yang saya pelajari tidak benar-benar masuk ke dalam pikiran saya.
Mungkin memang hanya sedikit. Mungkin hasilnya hanya belum terlihat. Tetapi bukan berarti tidak ada sesuatu yang sedang terbentuk. Mungkin terkadang hidup memang tidak membutuhkan kita untuk terus berlari. Kita cukup melangkah perlahan dan memastikan bahwa kita masih bergerak.
Laci Ketiga: Penerimaan
Laci ketiga adalah laci untuk sesuatu yang tidak memiliki solusi atau tidak bisa kita selesaikan dengan tindakan, seperti masa lalu, kehilangan, penyesalan, keputusan orang lain, perasaan seseorang terhadap kita, hal-hal yang sudah terjadi, dan mungkin juga beberapa hal yang belum terjadi tetapi terus membuat kita takut.
Berbicara perihal masa lalu, terkadang kita membayangkan jalur alternatif dari kehidupan yang sedang berjalan. Karena mungkin kita memiliki penyesalan dan keinginan untuk kembali bukan hanya sekedar keinginan untuk mengubah masa lalu, melainkan untuk usaha berdamai dengan sesuatu yang masih tertinggal disana. Tapi pernahkah kamu berpikir bahwa yang perlu berubah bukanlah masa lalunya? Melainkan diri kita yang hidup di masa kini. Masa lalu tetap akan sama, tetapi ketika kita berhasil untuk menerimanya, kita bisa merasakan perbedaan pada diri kita yang lebih merasa tenang. Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Namun terkadang, memahami dan menerima apa yang pernah terjadi sudah cukup untuk memperbaiki cara kita menjalani hari.
[!note] Saya pernah menuliskan perihal penerimaan masa lalu dari buku Sebelum Kopi Menjadi dingin.
Di sini saya pikir bahwa penerimaan tidak sama dengan menyerah, menerima bukan berarti mengatakan sesuatu yang terjadi tidak menyakitkan, bukan pula berarti kita menyukainya. Penerimaan mungkin bisa dikatakan berarti kita akhirnya mengakui.
Saya tidak bisa mengubah bagian ini, saya tidak bisa melakukan apapun soal ini.
Bukan berarti kita berhenti melakukan bagian yang masih menjadi milik kita. Kita tetap bisa mencoba, tetap bisa memperbaiki, tetap bisa menjalani apa yang memang masih dapat dilakukan. Tapi setelah itu , ada bagian yang memang bukan lagi milik kita.
Saya tetap bisa melakuakan bagian saya, saya tetap masih bisa mencoba, tetapi setelah itu, ada bagian yang memang bukan lagi milik saya, dan mungkin di sinilah kita perlu belajar melepaskan sesuatu yang selama ini terus kita genggam bukan karena kita tidak peduli. Justru karena kita sudah terlalu peduli terhadap sesuatu yang tidak dapat kita kendalikan.
Ketika masalah tidak benar-benar selesai
Kata "selesai" mungkin memiliki arti yang berbeda. Ada masalah yang selesai karena kita menemukan solusinya, ada masalah yang perlahan selesai karena waktu dan konsistensi, tetapi ada juga masalah yang tidak pernah benar-benar hilang. Luka dan rasa sakit mungkin masih ada, kenangan juga tetap ada, masa lalu tetap menjadi masa lalu, seseorang mungkin tetap memilih jalan yang berbeda dengan kita.
Tetapi apakah itu berarti kita gagal menyelesaikannya?
Saya rasa tidak, mungkin terkadang penyelesaiannya bukan membuat masalah tersebut hilang, melainkan membuatnya tidak lagi mengendalikan seluruh kehidupan kita, kita masih mengingatnya dan akan selalu mengingatnya, tetapi kita tidak lagi hidup didalamnya, masalah tersebut tidak lagi bisa mengendalikan kita walaupun dalam kenyataanya kita masih merasakan sakit ketika mengingatnya, tetapi rasa sakit tersebut tidak lagi menentukan setiap keputusan yang kita buat. Mungkin itulah bentuk penerimaan yang sebenarnya. Kita menerima rasa sakit tersebut, tetapi bukan berarti kita harus terus menerus membiarkannya mengendalikan seluruh hidup kita. Kita mungkin masih merasakannya, tetapi perlahan kita belajar beradaptasi dengannya sehingga rasa sakit tersebut tidak lagi menentukan setiap keputusan yang kita buat.
Ketidakpastian
Kita terkadang sering ingin mengetahui apa yang akan terjadi dan mempertanyakan sebuah pertanyaan. Misalnya, apakah keputusan yang kita ambil benar? Apakan seseorang akan tetap tinggal? Apakah usaha yang kita lakukan akan berhasil? Apakah sesuatu yang kita takutkan benar-benar akan terjadi? Kita ingin jawabannya sekarang, kita ingin mengetahui apa yang kita pertanyakan terjawab secepat mungkin, padahal mungkin jawabannya memang belum ada. Kita mencoba menggunakan tindakan untuk mendapatkan sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh waktu dan mungkin di situlah kita kembali ke laci kedua, bagian yang memang perlu waktu untuk mengetahui jawabannya. Kita tidak selalu harus mengetahui hasil akhirnya. Kadang kita hanya perlu melakukan apa yang bisa dilakukan di waktu ini, lalu membiarkan waktu berikutnya memberikan jawaban.
Tidak semua ketidakpastian harus segera dijawab.
Mungkin kita hanya perlu berjalan sedikit lebih jauh untuk melihat apa yang ada di depan, berjalan sedikit lebih pelan agar dapat melihat setiap hal secara seksama. Seperti saat berjalan di dalam kabut, kita tidak bisa melihat seluruh jalan. Tetapi kita masih bisa melihat beberapa langkah di depan dan mungkin untuk sementara, itu sudah cukup.
Catatan Kecil
Saya tidak begitu tahu apakah setiap orang bisa menemukan ketenangan hanya dengan sebuah anggapan ini, mungkin memang tidak. Dan mungkin tidak semua masalah dapat dibagi kedalam tiga laci tersebut. Karena terkadang apa yang kita pikirkan bukan berarti 100% dapat berhasil dan mengurangi seluruh beban yang ada pada kita dan saya rasa itu tidak masalah walaupun setidaknya hanya sedikit yang berkurang. Karena saya tidak sedang mencoba membuat sebuah aturan kehidupan, saya hanya sedang mencoba membuat sebuah peta untuk memahami bagaimana kehidupan saya berjalan, untuk merubah pandangan saya perihal bagaimana menghadapi setiap masalah yang hadir dalam hidup ini. Saya tahu pasti bahwa mungkin kehidupan dan cara saya berpikir belum tentu sesuai dengan apa yang orang lain lihat dan ketahui. Kita tidak dapat mengendalikan seluruh lanskap tempat kita berjalan karena ada gunung yang tidak bisa dipindahkan, ada sungai yang harus disebrangi, ada jalan yang mungkin tidak kita pilih sendiri, ada kabut yang membuat kita tidak dapat melihat terlalu jauh, tetapi kita masih bisa menentukan bagaimana kita berjalan. Mungkin pada akhirnya kehidupan tidak selalu membutuhkan jawaban mungkin terkadang kita hanya perlu tahu bahwa.
Ini yang harus saya lakukan, saya perlu waktu untuk ini, dan saya menerima ini semua karena ini diluar kendali saya.
Tiga hal yang terdengar sederhana, tetapi mungkin justru karena sederhana, itu bisa menjadi pengingat ketika kepala kita terasa sedang terlalu penuh. Tidak semua masalah harus kita bawa sepanjang hari, ada masalah yang cukup kita kerjakan, ada masalah yang kita bawa karena perlu waktu untuk membereskannya, dan ada masalah yang mungkin perlu terima dengan lapang dada agar kita bisa menjalani hari ini. Karena pada akhirnya, kita tetap harus hidup. Masa lalu tetap akan menjadi masa lalu, masa depan tetap menyimpan ketidakpastian, orang lain tetap memiliki pilihan mereka sendiri, dan masalah akan tetap datang namun mungkin kita tidak harus memiliki kendali atas seluruh landskap untuk bisa terus berjalan. Kita hanya perlu mengetahui bagian mana yang masih bisa kita genggam, bagian mana yang membutuhkan waktu, dan bagian mana yang harus kita lepaskan. Mungkin kita tidak tahu ke mana seluruh jalan ini akan membawa kita. Tetapi untuk hari ini, mungkin kita hanya perlu tahu satu hal ke mana langkah berikutnya.