Notes on the Book: Seporsi Mie Ayam sebelum mati, Tentang Alasan-Alasan Kecil untuk Tetap Hidup

Ada buku yang selesai kita baca, lalu beberapa hari kemudian kita tidak lagi terlalu mengingat apa yang terjadi di dalamnya. Namun ada juga buku yang setelah selesai dibaca justru membuat kita terus memikirkannya, bukan karena ceritanya belum selesai, tetapi karena ada sesuatu dari dalam cerita tersebut yang masih tertinggal di dalam pikiran. Bagian dari isi buku tersebut yang terkadang membuat kita merenung dan berkata pada diri sendiri "Oh, ada benarnya juga ya isi buku tersebut."
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna adalah salah satunya bagi saya.
Awalnya saya tertarik dengan buku ini karena judulnya, dan juga karena seberapa hype nya buku ini dikalangan peminat baca. Ada sesuatu yang terasa sederhana sekaligus ganjil dari kalimat Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati.
Mengapa seseorang yang sudah memutuskan untuk mati masih ingin menyempatkan diri makan mie ayam?
Semakin saya membacanya, semakin saya merasa bahwa mungkin justru pertanyaan itulah yang menjadi inti dari buku ini.
Bukan tentang mie ayam, melainkan tentang alasan kecil yang membuat seseorang masih mau bertahan satu hari lagi, demi sesuatu yang sangat dia inginkan.
Ketika Hidup Terasa Terlalu Berat
Tokoh utama dalam novel ini bernama Ale, seorang pria berusia 37 tahun berbadan besar dengan warna kulit hitam yang hidupnya dipenuhi banyak hal yang perlahan mengikis dirinya. Dia mengalami depresi, merasa tidak diterima oleh lingkungan, mengalami perundungan, tidak terlalu disayangi oleh ibunya serta tidak mendapatkan tempat yang membuatnya merasa benar-benar dimanusiakan.
Pada titik tertentu, Ale memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, karena dia merasa sudah tidak tahan dengan apa yang ada disekitar kehidupannya.
Namun sebelum melakukan itu, dia masih ingin makan seporsi mie ayam langganan nya yang berada dekat dengan tempat dia bekerja.
Sederhana sekali, dan justru kesederhanaan itu yang membuat saya berpikir.
Bukankah kehidupan terkadang memang seperti itu?
Kita sering membayangkan bahwa alasan seseorang untuk terus hidup haruslah sesuatu yang besar, keluarga, cita-cita, Kesuksesan, masa depan, orang yang dicintai. Banyak orang menyimpulkan bahwa untuk membuat kita merasa hidup, kita harus terus terusan memikirkan alasan yang cukup besar. Namun bagaimana jika pada suatu hari semua hal besar itu terasa terlalu jauh dan terlalu berat?
Mungkin yang tersisa hanyalah sesuatu yang sangat kecil. Semangkuk mie ayam, scangkir kopi, sebuah lagu, sebuah buku yang belum selesai dibaca, seseorang yang masih ingin kita temui, atau sekadar keinginan untuk melihat seperti apa hari esok, dan mungkin, untuk sementara waktu, alasan kecil seperti itu sudah cukup.
Perjalanan yang Tidak Direncanakan
Yang menarik dari novel ini adalah perjalanan Ale setelah keputusan tersebut.
Dia hanya ingin mendapatkan mie ayam terakhirnya, tetapi perjalanan itu justru membawanya bertemu dengan berbagai orang, dan situasi yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan. Dari pertemuan-pertemuan tersebut, Ale perlahan melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Orang-orang yang ditemuinya membawa cerita mereka sendiri. Ada kehidupan yang lebih rumit dari yang dia bayangkan, ada orang-orang yang juga terluka, ada mereka yang tetap menjalani hidup meskipun keadaan tidak pernah benar-benar berpihak kepada mereka. Dari orang-orang tersebutlah Ale lebih berasa di manusiakan dan dari sana juga Ale mulai melihat sesuatu yang sebelumnya mungkin tidak pernah dia lihat, bahwa setiap orang sebenarnya sedang membawa sesuatu. Kita hanya sering tidak mengetahuinya, orang yang kita lihat tersenyum mungkin sedang menyimpan sesuatu yang tidak pernah dia ceritakan, orang yang terlihat baik-baik saja mungkin sedang berusaha keras untuk bertahan, dan orang yang kita anggap memiliki kehidupan yang lebih mudah mungkin juga sedang berperang dengan sesuatu yang tidak terlihat.
Kita terlalu mudah melihat kehidupan orang lain dari permukaannya, padahal kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang mereka bawa. Seberapa besar beban yang ada pada pundak mereka, kita juga tidak tahu seberapa kesal mereka pada diri sendiri hanya karena mereka memiliki kekurangan, terlebih jika kekurangan tersebut tidak diterima oleh orang lain dan hanya menjadi olok-olokan yang terkadang berlandaskan dengan alasan "bercanda". Padahal sebenarnya jika untuk bercanda kekurangan seseorang bukanlah sesuatu yang lucu.
Tentang Merasa Tidak Diterima
Ale bukan hanya seseorang yang ingin mati, dia adalah seseorang yang sepanjang hidupnya ingin diterima, dia berusaha menyesuaikan dirinya, dia ingin memiliki teman, dia ingin dianggap, dia ingin menjadi seseorang yang keberadaannya tidak mengganggu orang lain. Namun, semakin dia berusaha, semakin dia merasa bahwa dirinya tetap tidak cukup dan mungkin bagian inilah yang membuat kisah Ale terasa begitu manusiawi. Karena keinginan untuk diterima sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi manusia, kita semua ingin memiliki tempat. Tempat di mana kita tidak perlu terus menerus menjelaskan diri sendiri, tempat di mana kita tidak perlu berpura-pura menjadi seseorang yang berbeda, tempat di mana kita dapat melepaskan topeng yang melekat erat pada wajah kita, tempat di mana keberadaan kita cukup hanya karena kita adalah diri kita sendiri.
Saya rasa manusia tidak selalu membutuhkan banyak orang, terkadang kita hanya membutuhkan satu tempat di mana kita merasa tidak perlu bersembunyi, tempat di mana kita merasa kalau inilah jati diri kita sebenarnya.
Apakah Kita Harus Selalu Memiliki Alasan Besar untuk Hidup?
Kita sering berbicara tentang alasan untuk hidup seolah-olah alasan tersebut harus selalu besar dan jelas. Kita harus punya tujuan, harus punya mimpi, harus punya sesuatu yang ingin dicapai, harus memiliki seseorang yang dicintai.
Namun bagaimana jika seseorang belum memiliki semua itu?
Apakah hidupnya menjadi kurang berharga?
Mungkin alasan untuk tetap hidup tidak selalu harus ditemukan sekaligus.
Mungkin kita bisa menemukannya sedikit demi sedikit, dari yang paling terkecil, hal-hal sederhana yang mungkin saja kita lewati.
Hari ini mungkin alasannya adalah mie ayam? Besok mungkin sebuah buku? Lusa mungkin percakapan singkat dengan seseorang? Atau mungkin hanya karena pagi itu matahari terasa menyenangkan.
Hal-hal kecil tersebut mungkin terlihat tidak berarti ketika dilihat satu per satu, tanpa kita sadari setiap hal kecil yang sudah kita lalui terasa sangat tidak berarti sebelumnya.
Namun ketika semuanya dikumpulkan, mungkin justru dari sanalah kehidupan terasa memiliki alasan untuk terus berjalan. Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya.
Seperti layaknya dalam film "Perfect Days" yang pernah saya bahas tentang bagaimana tokoh utamanya memaknai hal-hal kecil yang terjadi dapat dibaca di Perfect Days: Tentang rutinitas sederhana yang terkadang lebih bermakna
Tidak Semua Luka Harus Segera Hilang
Salah satu hal yang saya sukai dari buku ini adalah bagaimana kehidupan tidak digambarkan sebagai sesuatu yang tiba-tiba menjadi sempurna, semuanya melalui proses. Luka tidak serta merta menghilang, masa lalu tidak tiba-tiba berubah, masalah tidak semuanya selesai. Namun cara seseorang memandang kehidupan dapat berubah dan menurut saya, perubahan cara pandang itu penting, karena mungkin hidup bukan tentang bagaimana kita menghilangkan semua rasa sakit, mungkin hidup lebih sering tentang bagaimana kita belajar untuk merasa lebih hidup meskipun rasa sakit itu masih ada, karena rasa sakit itu akan selalu ada. Kita tetap membawa masa lalu, tetap memiliki ketakutan, tetap memiliki hari-hari buruk. Tetapi mungkin perlahan kita mulai menemukan bahwa semua itu tidak harus menentukan seluruh kehidupan kita. Kita hanya perlu menerima setia hal yang terjadi kepada kita, karena terkadang kehidupan hanya terbagi pada apa yang dapat kita kontrol, dan apa yang tidak dapat kita kontrol.
Tentang Orang-Orang yang Pernah Kita Temui
Hal lain menarik dari buku ini adalah bagaimana perjalanan Ale berubah karena pertemuannya dengan orang-orang lain. Terkadang kita tidak menyadari bahwa kehadiran seseorang dalam hidup kita mungkin memiliki arti yang jauh lebih besar daripada yang kita kira. Sebuah percakapan singkat, seseorang yang mau mendengarkan, seseorang yang memberikan makanan, seseorang yang memperlakukan kita seperti manusia. Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat biasa bagi orang yang memberikannya. Namun bagi orang lain yang menerima mungkin justru menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Pada dasarnya manusia terkadang terlalu fokus pada rasa sakit yang kita terima, dan memunculkan pemikiran negatif dari hal tersebut. Kita tidak menyadari bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan terkadang memiliki dampak positif bagi orang lain. Mungkin kita tidak pernah tahu seberapa besar arti kehadiran kita bagi seseorang. Karena itu, mungkin ada baiknya kita tidak terlalu meremehkan kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan.
Mie Ayam yang Sederhana Namun Bermakna
Pada akhirnya, saya merasa judul buku ini justru menjadi semakin masuk akal setelah saya selesai membacanya. Seporsi mie ayam terlihat seperti sesuatu yang sangat sederhana. Namun justru sesuatu yang sederhana itu dapat menjadi alasan seseorang untuk menunda kematian dan mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan melalui hal tersebut, kita terlalu sering mencari makna kehidupan dari sesuatu yang besar, padahal mungkin kehidupan memang tidak selalu datang dalam bentuk sesuatu yang besar, kadang datang dalam bentuk makanan yang kita sukai, percakapan singkat, tawa bersama teman, buku yang sedang kita baca, musik yang kita dengarkan berulang kali, seseorang yang tersenyum kepada kita, atau hari biasa yang sebenarnya tidak terjadi apa-apa, kita mungkin tidak menyadari bahwa hal-hal kecil tersebut sedang membentuk alasan kita untuk tetap berada di sini, dalam kehidupan yang sebelumnya kita pikir tanpa warna.
Setelah Menutup Buku
Setelah menutup buku ini, saya tidak merasa mendapatkan jawaban tentang bagaimana seseorang harus menjalani hidup. Saya justru mendapatkan sebuah pertanyaan.
Berapa banyak hal kecil dalam kehidupan yang sebenarnya masih membuat kita ingin tetap tinggal?
Mungkin kita tidak selalu menyadarinya, kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang belum kita miliki, kehilangan sesuatu yang sudah pergi, atau membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Sementara di hadapan kita, masih ada banyak hal kecil yang sebenarnya sedang berlangsung. Kita masih bisa membaca buku, masih bisa mendengarkan musik, masih bisa menikmati makanan yang kita sukai, masih bisa melihat seseorang tersenyum, masih bisa berjalan pulang setelah hari yang melelahkan, dan mungkin... untuk hari ini, semua itu sudah cukup, bukan berarti semua masalah selesai, bukan berarti rasa sakit menghilang, bukan berarti kehidupan tiba-tiba menjadi mudah. Hanya saja, mungkin kita tidak perlu selalu menemukan alasan besar untuk melanjutkan kehidupan.
Terkadang satu alasan kecil saja sudah cukup untuk membuat kita berkata,
"Mungkin besok saya masih ingin melihat apa yang terjadi."
Dan mungkin itulah yang akhirnya saya sadari setelah selesai membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, bahwa kehidupan tidak selalu meminta kita memiliki jawaban.
Terkadang kehidupan hanya meminta kita untuk tetap tinggal sedikit lebih lama. Mungkin selama satu lagu, satu halaman buku, satu percakapan, atau... satu porsi mie ayam langganan kita.