(Opini) Mengapa Lagu Tertentu Terasa Seperti Sedang Membicarakan Kita?
Foto oleh Simon Noh di Unsplash
Pernahkah kamu berpikir bahwa musik selalu hadir dalam kehidupan manusia?
Coba bayangkan saja. Ada orang yang bekerja sambil mendengarkan musik, belajar dengan playlist tertentu, memakai earphone ketika berada di kendaraan umum, memutar musik saat hujan turun, atau sengaja mencari musik tertentu ketika sedang merasa emosional.
Pada dasarnya memang musik selalu hadir dalam kehidupan manusia. Kita mendengarkannya melalui lagu-lagu yang menemani perjalanan, pekerjaan, kesendirian, bahkan masa-masa yang sulit. Dalam tulisan ini, ketika saya berbicara tentang musik, saya menggunakannya sebagai sesuatu yang lebih luas seperti sebuah pengalaman, bunyi, dan bentuk ekspresi manusia. Sementara lagu adalah bentuk musik yang lebih dekat dengan keseharian kita. Sesuatu yang kita dengarkan, memiliki lirik, ingatan, dirasakan, dan terkadang kita kaitkan dengan seseorang atau suatu masa.
Musik tidak mengubah kenyataan. Masalah tetap ada, orang yang pergi tidak kembali, pekerjaan tetap menunggu untuk diselesaikan. Namun, mengapa manusia selalu kembali kepada musik?
Semakin saya memikirkannya, semakin saya merasa bahwa hubungan manusia dengan musik jauh lebih dalam daripada sekedar hiburan, musik terkadang menemani kita dikala merasa sepi, dikala sedih, dikala banyak perasaan berkecamuk. Musik sebagai Pengingat Emosi. Musik telah hadir dalam kehidupan manusia sejak masa yang sangat lama. Jauh sebelum musik direkam, ditulis atau diperdengarkan melalui earphone, manusia telah menggunakannya dalam berbagai aktivitas. Penelitian tentang evolusi musikalitas menjelaskan bahwa aktivitas musik dan gerak mengikuti musik memiliki hubungan dengan ritual, identitas, dan ekspresi manusia di berbagai kebudayaan. Musik bukan hanya sekedar bunyi yang didengar secara individual, melainkan aktivitas sosial yang membantu manusia membangun dan mempertahankan ikatan dengan orang lain.
“Music-making, and movement to music, are activities central to ritual, courtship, identity, and human expression cross-culturally.” Bronwyn Tarr, J. Launay, R.I.M. Dunbar (2014), # Music and social bonding: “self-other” merging and neurohormonal mechanisms
“In almost all cultures globally, and throughout history, music is a social activity.” Bronwyn Tarr, J. Launay, R.I.M. Dunbar (2014), # Music and social bonding: “self-other” merging and neurohormonal mechanisms
Bukti lintas budaya menunjukan juga bahwa musik tidak hanya digunakan untuk merayakan kebahagiaan. Musik hadir dalam pengasuhan bayi, penyembuhan, tarian, cinta, perkabungan, prosesi, ritual dan penceritaan. Artinya sudah sejak dari dahulu kala musik mengikuti manusia dalam berbagai keadaan emosional, termasuk keadaan yang sulit dan penuh kehilangan. Mungkin musik tidak selalu digunakan untuk menghapus emosi tersebut. Dalam banyak konteks, musik terkadang justru membantu manusia memvalidasi, menandai, membagikan, dan menjalani pengalaman emosional yang ada bersama orang lain.
Mungkin karena itu musik terasa begitu dekat ketika kita sedang sepi, sedih, atau dikelilingi banyak perasaan. Sejak awal sejarahnya, musik tidak hanya hadir untuk merawat, berduka, berdoa, menunggu, merayakan dan mencoba memahami pengalaman hidupnya. Musik tidak selalu menghilangkan kesedihan, tetapi memberi bentuk pada kesedihan itu. Musik membuat sebuah perasaan yang semula hanya dirasakan oleh seseorang menjadi sesuatu yang dapat didengar, dibagikan, dan mungkin dipahami oleh orang lain.
Ada lagu-lagu tertentu yang mampu membawa kita kembali ke suatu waktu, lebih ke masa lalu atau suatu tempat melalui kenangan yang ada misalnya masa kecil, masa sekolah, rumah, sore hari, hujan, atau bahkan seseorang yang sudah lama tidak kita temui.
"Music-evoked autobiographical memories were associated with strong emotional responses and with activity in the medial prefrontal cortex — a region known to be involved in self-referential processing." Janata (2009), Cerebral Cortex
Apakah sebenarnya kita mengingat lagu tersebut? Atau justru lagu itu mengingatkan kita pada siapa diri kita ketika mendengarkannya?
Mungkin karena itu sebuah lagu bisa terasa sangat berbeda ketika didengarkan pada waktu yang berbeda. Lagu yang sama dapat terdengar biasa saja hari ini, tetapi mampu membuat kita terdiam ketika didengarkan beberapa tahun kemudian. Yang berubah bukan lagunya, melainkan diri kita.
Musik Tidak Selalu Mengubah Emosi.
Banyak orang mengatakan bahwa musik dapat mengubah suasana hati.
Setelah membaca beberapa penelitian, saya menemukan bahwa memang ada penjelasan ilmiah mengenai hal tersebut. Musik dapat memengaruhi sistem saraf dan merangsang pelepasan neurotransmiter seperti dopamin yang berperan dalam regulasi emosi.
"The findings of these studies all point to the mesolimbic reward system as important for music-induced pleasure, leading to the hypothesis that the dopamine system may be mediating the affective response… there was dopamine release in both ventral and dorsal portions of the striatum while listeners experienced highly pleasurable pieces of music that induced chills." David H. Zaid & Robert J. Zatorre (2011), "Music – Neurobiology of Sensation and Reward" NCBI Bookshelf (NIH)
Namun bagi saya, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab pengalaman manusia ketika mendengarkan musik.
Mungkin musik tidak benar-benar membuat kita bahagia.
Melainkan membantu kita menyadari apa yang sebenarnya sedang kita rasakan.
Ketika sedang sedih, lagu sedih tidak menghilangkan kesedihan. Sebaliknya, itu justru membuat kesedihan tersebut terasa memiliki bentuk. Perasaan yang sebelumnya hanya menjadi kebisingan di dalam kepala perlahan menjadi sesuatu yang bisa kita kenali.
Musik sebagai Bahasa
Mengapa terkadang kita memilih mengirim sebuah lagu kepada seseorang daripada menjelaskan perasaan kita sendiri?
Mungkin karena ada emosi yang lebih mudah dinyanyikan daripada dijelaskan. Musik menjadi bahasa ketika kata-kata tidak lagi cukup. Studi komprehensif dari Harvard University menunjukkan bahwa musik memang merupakan bahasa universal manusia. Penelitian terhadap ratusan kebudayaan membuktikan bahwa meskipun bentuknya berbeda, musik di seluruh dunia memiliki pola dasar yang sama untuk konteks sosial yang serupa. seperti menenangkan bayi, menyembuhkan penyakit, atau merayakan cinta. Musik memberi ruang bagi seseorang untuk menyalurkan emosi yang sulit diungkapkan melalui percakapan biasa.
Music is the universal language of mankind... In this huge web of diversity there is something that we share, that we’re all speaking to." - Manvir Singh, peneliti Harvard dalam The Natural History of Song.news.harvard.edu
Barangkali karena itu, ada lagu-lagu yang terasa seperti sedang berbicara atas nama kita, padahal tentu saja bukan.
Musik sebagai Teman
Musik tidak menyelesaikan masalah, musik tidak mengubah masa lalu, musik tidak dapat membuat seseorang yang pergi kembali, amun musik tetap kita cari.
Mengapa?
Dalam psikologi, musik sering dipandang sebagai salah satu coping mechanism, yaitu cara seseorang menjaga keseimbangan emosinya ketika menghadapi tekanan hidup. Musik memang tidak menghilangkan sumber masalah, tetapi dapat membantu seseorang bertahan ketika menjalani masalah tersebut. Misalnya bagi seseorang yang kesulitan untuk mengungkapkan isi pikirannya, perasaannya atau mungkin sulit untuk membicarakan nya secara verbal.
“Listening to music or playing an instrument are particularly powerful forms of coping that can have a plethora of positive effects on an individual.” Karly Pikel (2024), Music as a Coping Mechanism: Clinical Implications of How College Students Utilize Music to Cope with Anxiety, Depression, and Daily Stressors
Mungkin karena itu musik terasa seperti teman. Bukan teman yang memberi solusi. Melainkan teman yang memilih duduk diam bersama kita.
Musik dan Kesendirian
Ada kalanya saya merasa manusia tidak mendengarkan musik untuk mengusir kesunyian. Melainkan untuk menemani kesunyian tersebut. Musik menutupi kebisingan yang ada di dalam kepala. Musik memberi ruang agar kita bisa mendengar diri kita sendiri.
Apakah manusia mendengarkan musik karena tidak ingin merasa sendirian?Atau justru karena musik membuat kesendirian terasa lebih tenang?
Saya rasa tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban.
Ketika Menemukan Diri dalam Lagu
Ada lagu yang sebenarnya tidak ditulis untuk kita. Namun ketika mendengarkannya, kita merasa lagu itu sedang menceritakan hidup kita.
Mengapa? Apakah lagu mengenal kita? Tentu tidak.
Mungkin kitalah yang menemukan sebagian diri kita di dalam lagu tersebut.
Menariknya, hubungan manusia dengan musik ternyata sudah berlangsung jauh lebih lama seperti yang saya tulis sebelumnya banyak kebudayaan yang menggunakan musik dalam berbagai aktivitas kebudayaannya. Selain itu temuan arkeologis menunjukkan bahwa manusia telah membuat alat musik sejak puluhan ribu tahun yang lalu.
Mungkin karena itulah musik terasa begitu dekat dengan manusia.
Musik selalu hadir, bahkan sebelum kita benar-benar memahami alasan mengapa kita membutuhkannya.
Mungkin manusia tidak selalu mendengarkan musik untuk mengubah suasana hati.
Terkadang kita hanya ingin seseorang mengatakan,
"Apa yang kamu rasakan itu nyata."
Dan ketika tidak ada seorang pun yang mengatakannya, musik melakukannya lebih dulu.
Setelah memikirkan semua itu, saya mulai menyadari bahwa saya tidak pernah benar-benar mencari lagu baru.
Saya hanya terus mencari lagu yang mampu menjelaskan sesuatu yang belum mampu saya jelaskan kepada diri saya sendiri. Saya mendengarkan lagu secara random di youtube music. Namun ketika lagu tersebut menyentuh sisi lain dari diri saya sendiri saya mulai menyukainya dan mulai mengulang-ulang lagu tersebut.
Referensi
- Karly Pikel (2024), Music as a Coping Mechanism: Clinical Implications of How College Students Utilize Music to Cope with Anxiety, Depression, and Daily Stressors
- news.harvard.edu (2019), Comprehensive study explains that it is universal and that some songs sound ‘right’ in different social contexts, all over the world
- David H. Zaid & Robert J. Zatorre (2011), "Music – Neurobiology of Sensation and Reward" NCBI Bookshelf (NIH)
- Janata (2009), Cerebral Cortex
- Bronwyn Tarr, J. Launay, R.I.M. Dunbar (2014), # Music and social bonding: “self-other” merging and neurohormonal mechanisms